4:51 pm - Monday April 21, 2014

Kalau Mau Cabut Buat Perencanaan Dulu Ya…

Bolos sekolah atau cabut istilah prokemnya, ternyata tidak gampang untuk dilakukan. Karena waktu antara 08.00 WIB – 13.30 WIB itu tidak sebentar. Jika tidak punya perencanaan matang maka akan bingung mau dihabiskan untuk apa dan kemana. Bisa-bisa tidak ada manfaatnya dan menyesal pulak. Kalau salah langkah, malah bisa ketangkap tangan.

Karena itu kalau mau cabut, pikir dulu matang-matang. Buat perencanaan yang sistemik dan terukur. Agar bisa bermanfaat dan bisa mengulanginya lagi kapan-kapan. Wkwkwkw…

Baiklah, aku akan berbagi cabut sekolah pertama ku yang sangat tidak bermanfaat dan sedikit menyesal saat melakukannya. Awalnya niat bolos itu sudah dipikirkan sehari sebelumnya karena kesal sama Guru Matematika ( cerita sebelumnya ) .

Pagi itu aku menunggu angkutan kota (angkot) di simpang Jalan Bilal/Jalan Krakatau depan SD Centre 060870. Persimpangan itu tempat paling favorit anak sekolah utamanya siswa-siswi SMU 7 sebagai tempat transit ganti angkot.

Ada beberapa siswa saat itu yang menunggu bersama. Mereka saling berebut naik angkot yang masih tersedia bangku kosong karena waktu sudah semakin sempit. Hanya aku yang terlihat santai dan cuek dengan angkot-angkot yang lewat. Karena memang tujuannya tidak berangkat ke sekolah, tapi belum tahu mau kemana.

Ternyata yang punya niat cabut saat itu bukan hanya aku. Sekitar 10 meter dari tempat ku berdiri masih ada sesosok tambun yang hanya celingak-celinguk tak kunjung naik angkot. Siapa dia? Itulah Si Hakim anak Kelas 1-3 yang pasti kalian kenal. Kami pun saling berpandangan dan bertanya-tanya dalam hati mengapa tidak naik angkot yang sama dengan siswa-siswa lain.

Aku yang belum punya pengalaman cabut sekolah cukup tengsin untuk mengakui rencana cabut ku. Hakim pun langsung menebak gelagat ku. “Mau cabuk ko ya?” ujar Hakim.

“Eh, i iya. Ko kok nggak naik angkot,” ujar ku.

“Kenapa kok cabut pulak kau? Aku pun lagi malas ini. Mau kemana?” balasnya lagi sambil tersenyum puas seolah baru dapat keyakinan kuat untuk cabut.

“Nggak tau. Kemana enaknya?” kata ku lagi.

“Ayoklah jangan di sini kita. Ketahuan nanti,” sambung Hakim sambil menyetop angkot yang ke arah Titi Gantung.

Sampai Titi Gantung kami pun berhenti dan duduk di salah satu sudut yang tersembunyi. Karena nggak tau tujuan, dan sama-sama lagi bokek, kami pun hanya ngobrol nggak jelas. Bahkan lebih banyak diam karena memang belum terlalu akrab saat itu. Waktu pun terasa sangat lambat berjalan karena saat itu masih sekitar 09.00 WIB.

Hakim tiba-tiba mengajak pergi dari situ. Karena menurutnya lokasi itu kurang aman. Orang tua atau kakaknya kadang lewat situ kalau agak siang. Dia pun bertanya lagi kemana enaknya. Ya, namanya masih pemula tetap saja nggak tau mau kemana. Pasrah di bawa kemana juga.

“Ya udah kita naik angkot lagi,” ujar Hakim sambil menyetop angkot ke arah Brayan.

“Kok jadi balik lagi,” ujar ku membatin. Sampai di Brayan kami berhenti dan nongkrong sebentar. Lalu giliran ku yang mengatakan kalau lokasi itu nggak aman. Karena mamak ku sering ke Brayan. Kami pun semakin bingung mau kemana.

Akhirnya Hakim nekat ngajak pulang ke rumahnya. Biasanya di rumahnya itu nggak ada orang jika udah jam 10.00 WIB. Aku pun nurut aja karena nggak tau lagi mau kemana . Eh, di rumahnya ternyata masih ada kakaknya. “Mati aku,” membatin.

“Udah tenang aja, bilang pulang cepat ada ujian anak kelas tiga. Percayanya itu,” kata Hakim lagi meyakinkan.

Alhamdulillah kakaknya percaya. Kami pun main game di rumahnya. Ya, dasar memang kami kurang akrab, tetap aja bosan. Hakim pun memilih tidur di kamar dan aku ditinggal nonton DVD. Aku pun nonton sendiri dan filmnya masih kuingat sampai saat ini “Operation Dumbo Drop” sanking berkesannya.

Agak siang Hakim pun bangun dan ngajak merokok di salah satu bangunan kosong di dalam komplek rumahnya. Mungkin banyak juga yang tau lokasi ini. Karena sudah seperti base camp ku lihat. Setelah makan siang, aku pun memilih pulang ke rumah.

Berakhirlah petualangan bolos sekolah ku yang pertama kali di SMA. Yang ada hanya perasaan nyesal karena seharian hanya merasa bosan, takut tak jelas, dan jenuh. Ditambah lagi sehari tidak melihat gebetan ternyata nggak asik, whuahahah..

Esoknya, jumpa di sekolah sama Hakim kami hanya tertawa berdua. Ya, menertawakan kebodohan kami yang tak punya persiapan untuk cabut. Lain kali bikin persiapan dulu ya cuy.

Untuk berbagi tips cabut yang aman dan nyaman, saya serahkan pada pakarnya Ferry dan Rendra :)

Salam Cabut !!!

 

(Aldi)

Share Button
The following two tabs change content below.
alumni 2000
Filed in: Behind the Scenes, Nostalgila SMU, Para Alumni

5 Responses to “Kalau Mau Cabut Buat Perencanaan Dulu Ya…”

  1. muhammad irwan
    June 13, 2013 at 5:44 pm #

    lucu juga pengalalaman cabutnya dek…

    • admin
      June 14, 2013 at 2:00 pm #

      itu masih 1/10 lucunya bang, masih banyak yang lebih lucu lagi… hehehehe

  2. aldi
    June 15, 2013 at 6:12 am #

    Sbnrnya ini bkn crta lucu bg, tp tragis huahaha.. Ayo bg berbagi pnglman nostalgila brsama di sini, sblm yg lain muak bc cerita kami mulu yg sok eksis smasa sma, pdhl emang iya hehehe..

  3. melia
    June 21, 2013 at 9:28 am #

    Aldi…kita kan sekelas waktu kelas 1 ya…1-2, trus aku pindah ke 1-1 … kapannya tragedi itu terjadi?? ga asik kali jaman es em a ku dulu yaa

  4. aldi
    June 21, 2013 at 10:59 am #

    Aq lp klo kt skls,mgkin krn klen pindah di awal caturwulan 1 mgkin ya, ini kjdian di caturwulan 3 ato 2..
    Smw crta sma pasti seru lah, aplgi klo ditulis dsini, pasti tmbh seru :)

Leave a Reply

Switch to our mobile site